Daftar Isi

Sunday, February 13, 2011

ABSES OTAK

PENDAHULUAN

Abses otak adalah koleksi infeksi purulen berbatas tegas didalam parenkim otak. Supurasi yang terbatas dapat terjadi di dalam otak seperti halnya pada bagian-bagian tubuh yang lain. Setelah peradangan purulen yang akut, pus di dalam jaringan otak dapat bergerak bebas atau dikelilingi kapsul. Besar abses beraneka ragam mulai dari ukuran mikroskopik sampai suatu area yang meliputi sebagian besar hemisferium cerebri.1,2

Otak resisten terhadap bentuk abses, tetapi abses dapat terjadi disebabkan oleh jaringan yang nekrosis akibat infeksi bakteri. Penyakit yang kondusif terhadap terjadinya suatu abses yaitu infeksi paru kronik (pneumonitis, bronchiestatis, abses paru), sinusitis akut dan kronik, otitis, atau mastoiditis, penyakit paru kongenital, atau gangguan vaskularisasi paru, infeksi pada kulit, tulang dan ginjal, dan endokarditis bakterial akut. Penyakit tersebut merupakan sumber abses yang tidak dapat dipastikan.3

INSIDEN

Abses otak merupakan masalah medis yang signifikan, dan merupakan masalah yang perlu segera dideteksi dan diobati, dengan perbandingan 1 kasus dalam 10.000 pasien pada rumah sakit di Amerika Serikat, atau 1500-2500 kasus di negara lain. Prevalensi abses otak pada penderita AIDS tinggi, sehingga angka rata-rata terus meninggi. Abses otak jarang terjadi pada negara-negara maju, tetapi merupakan masalah penting pada negara-negara berkembang.4,5

ETIOLOGI

Walaupun jarang terjadi, abses otak tunggal maupun multipel dapat terjadi dan biasanya disebabkan oleh:1,2,6,7

1. Infeksi pada daerah sekitar otak seperti sinus paranasalis, telinga tengah, mastoid, dan gigi

Abses otak umumnya terjadi sekunder terhadap infeksi ditempat lain, dan bakteriologi sering menunjukkan sumber primer. Abses yang terjadi melalui penjalaran dari infeksi telinga tengah atau mastoid biasanya terletak di dalam lobus temporalis atau cerebellum. Abses yang terjadi melalui penjalaran dari sinus-sinus paranasal biasanya terdapat di dalam lobus frontalis. Abses yang terjadi sesudah bakteremia cenderung bersifat multipel. Abses metastatik sering merupakan keadaan sekunder dari supurasi pulmonum.

2. Proses neurosurgery atau cedera kepala yang menembus ke otak

Kontaminasi otak langsung melalui cedera otak penetrasi adalah penyebab lain dari abses. Fragmen tulang yang belum dibuang serta debris lainnya umumnya dijumpai pada pasien dengan infeksi otak traumatika.

3. Infeksi bagian tubuh lain yang disebarkan melalui darah (hematogen)

Abses otak multipel menunjukkan penyebaran hematogen dari sumber jauh dan infeksi sistemik yang umum seperti endokarditis bakterial, kelainan jantung kongenital sianotik, pneumonia, dan divertikulitis harus dicari. Penyebaran hematogen, terutama dari endokarditis, mungkin berhubungan dengan aneurisma intrakranial piogenik.

4. Penyebab yang tidak diketahui (cryptogenic)

Biasanya banyak organisme menyebabkan abses otak yaitu Streptococci yang merupakan organisme anaerob atau mikroaerofilik dan Staphylococcus, dimana sering ditemukan bersamaan dengan organisme anaerob yang lain atau dengan Enterobacteria. Pada kasus khusus abses juga disebabkan oleh toxoplasmosis, jamur, dan tuberculosis. Kokkus gram negatif anaerob dan mikroaerofilik serta basil gram positif anaerobik adalah isolat yang paling penting.5



a. Organisme predominan:

Staphylococcus aureus, Streptococci aerobic dan anaerobic (khususnya Streptococcus intermedius), Bacteriodes, Prevotella, dan Fusobacterium spp, Enterobactericeae, Pseudomonas spp.

b. Penyebab lain:

H. influenzae, Streptococcus pneumoniae, Neisseria meningitidis, Nocardia asteroides, Mycobacterium, Fungi (Aspergillus, Candida, Cryptococcus, Mucorales, Coccidioides, Histoplasma capsulatum, Blastomyces dermatitidis, Bipolaris, Exophiala dermatitidis, Curvularia pallescens, Ochroconis gallopava, Ramichloridium mackenziei), Protozoa (Toxoplasma gondii, Entamoeba histolytica, Trypanosoma cruzi, Schistosoma, Paragonimus), Helmintes (Taenia solium), Toxoplasma gondii, Pseudallescheria boydii.

c. Organisme lain yang berhubungan dengan pengaruh kondisi tertentu:

- Infeksi sinus dan gigi: Streptococci aerob dan anaerob, basil gram negatif anaerob (Prevotella, Porphyiromonas, Bacteriodes), Fusobacterium, Staphylococcus aureus, Enterobactericeae.

- Infeksi paru: Streptococci aerob dan anaerob, basil gram negatif anaerob (Prevotella, Porphyiromonas, Bacteriodes), Fusobacterium, Actinomyces, Nocardia.

- Penyakit jantung kongenital: Streptococci aerob dan microaerophilic, Staphylococcus aureus.

- Trauma tajam: Staphylococcus aureus, Streptococci aerob, Enterobactericeae, Clostridium.

- Transplantasi: Aspergillus, Candida, Cryptococcus, Mucorales, Nocardia, Toxoplasma gondii.

- Neutropenia: basil gram negatif aerob, Aspergillus, Candida, Mucorales.

- Infeksi HIV: Toxoplasma gondii, Mycobacterium, Cryptococcus, Nocardia, Listeria monocytogenes.

PATOFISIOLOGI

Abses terdiri dari bagian sentral yang nekrotik dan merupakan daerah purulen, yang dilingkupi oleh sebuah kapsul. Daerah sentral tersebut berisi debris dan leukosit. Kapsul yang pembentukannya memerlukan waktu berminggu-minggu, mempunyai 3 lapisan. (1) lapisan sebelah dalam yang dekat dengan rongga pus dan ditandai dengan adanya serabut-serabut jaringan penyokong kolagen. (2) Lapisan tengah yang lebih lebar dan kaya akan unsur-unsur jaringan konektif untuk perbaikan seperti kapiler dan fibroblast, dan (3) lapisan sebelah luar dari jaringan konektif yang berisi pembuluh darah dan lebih banyak fagosit daripada lapisan tengah.2

Abses otak terjadi akibat rangsangan infeksi parenkim oleh bakteri piogenik, dimulai pada area serebri dan berkembang menjadi lesi supuratif yang dikelilingi oleh dinding vaskularisasi yang fibrotik.4

Perjalanan waktu dan perubahan yang terjadi selama pembentukan abses pada anjing dikemukan oleh Britt. Sel inflamatori akut tampak pada pusat meterial yang nekrotik, dikelilingi zona serebritis. Dengan maturasi, timbul neovaskularisasi perifer dan lambat laun terbentuk cincin fibroblas yang menimbun kolagen dan makrofag, berakhir sebagai kapsul berbentuk tegas. Apakah serebritis menjadi abses yang berkapsul tergantung pada interaksi pasien-organisme dan pengaruh terapi. Pada manusia dengan sitem imun baik, proses sejak infiltrasi bakterial hingga abses berkapsul memerlukan sekitar 2 minggu. Daerah terlemah dari kapsul cenderung merupakan daerah yang kurang vaskuler yang menghadap ventrikel, karenanya migrasi sentrifugal proses inflamasi dengan ruptur ventrikuler dan kematian merupakan sekuele yang umum pada masa prabedah dahulu kala.1

Pada beberapa situasi darurat dimana suatu jenis bakteri resisten terhadap berbagai macam obat sehingga menjadi faktor pengacau. Diikuti dengan terjadinya infeksi, akibat potensial dari abses otak meliputi perubahan dimana pada daerah abses terbentuk jaringan fibrotik, hilangnya jaringan otak akibat eksisi sewaktu pembedahan, atau terjadi ruptur pada abses sehingga dapat menyebabkan kematian. Jika tidak segera dideteksi, abses ini akan ruptur utamanya pada daerah ventrikel, yang merupakan komplikasi serius dengan angka mortalitas 80%. Abses otak diikuti oleh komplikasi pada pasien berupa kejang, mental yang terganggu, dan defek fokal neurologik berupa lesi bergantung tempat.4

Stadium abses otak pada manusia dapat diidentifikasi melalui CT scan dan MRI. Stadium awal pada cerebritis akut terjadi pada hari 1-3 dan dibagi berdasarkan akumulasi netrofil, nekrosis jaringan, dan edema. Aktifasi mikroglia dan astrosit juga jelas pada stadium ini dan berlangsung terus-menerus hingga tahap akhir dari abses tersebut. Pada stadium lanjut, atau stadium cerebritis kronik, berlangsung dari hari 4-9 dan dihubungkan dengan makrofag predominan dan infiltrat limfosit. Stadium akhir berlangsung dari hari ke 10 dan seterusnya dan dihubungkan dengan vaskularisasi yang baik pada dinding abses, menyebabkan pengasingan lesi dan perlindungan pada sekeliling parenkim otak dari kerusakan tambahan. 4

Disamping membatasi infeksi yang luas, respon imun yang merupakan bagian penting dari pembentukan abses juga merusak sekitar jaringan normal otak. Hal tersebut didukung oleh penemuan pada hewan percobaan dimana bagian lesi sangat besar dibandingkan pertumbuhan alami bakteri, membuat pengaktifan yang berlebihan dari respon imun. Fenomena ini juga tampak pada abses otak manusia, dimana lesi dapat mencakup sebagian besar dari jaringan otak. Bagaimanapun, pengontrolan intensitas dan atau durasi dari respon imun anti bakteri pada otak mungkin efektif untuk penyingkiran bakteri untuk mengurangi kerusakan di sekitar jaringan otak. 4

Pembentukan abses jarang terjadi selama perjalanan meningitis bakterial, namun merupakan faktor predisposisi pada 25% abses otak pediatrik yang biasanya berkaitan dengan meningitis Sitrobakter atau Proteus neonatal. Sebaliknya abses otak sering dijumpai pada pasien dengan immunitas yang terganggu sekunder atas penggunaan steroid, kelainan limfoproliferatif, dan transplantasi organ, dan absesnya cenderung multipel.1

Organisme yang paling sering dijumpai pada abses otak adalah Streptokokus, Stafilokokus, dan Bakteroides, dengan organisme multipel pada 10-20% kasus. Terapi antibiotik empiris berdasar lokasi lesi dan sumber infeksi yang sudah dikenal, namun beratnya penyakit serta sering terjadinya infeksi yang tidak terduga menyebabkan dianjurkannya antibiotik jangkauan luas atas gram positif, gram negatif, dan anaerob sebagai terapi empiris pada semua kasus.1

GAMBARAN KLINIK

Abses otak bisa menyebabkan berbagai gejala, tergantung kepada lokasinya. Gejalanya bisa berupa sakit kepala, mual, muntah, rasa mengantuk, kejang, perubahan kepribadian dan gejala kelainan fungsi otak lainnya. Gejala-gejala tersebut bisa timbul dalam beberapa hari atau beberapa minggu. Pada awalnya penderita merasa demam dan menggigil, tetapi gejala ini baru menghilang ketika tubuh berhasil menangkal infeksi tersebut.7

Nyeri kepala merupakan gejala yang paling sering ditemukan, diikuti rasa mengantuk, bingung, kejang umum dan lokal, dan gangguan motorik, sensorik, lapangan pandang, dan bahasa. Triase demam, sakit kepala, dan defisit neurologis fokal terjadi pada kurang dari setengah pasien. Frekuensi dari tanda dan gejala umumnya berturut-turut: sakit kepala 70%, perubahan status mental 65%, defisit neurologis fokal 65%, demam 50%, kejang 25-35%, mual dan muntah 40%, kekakuan 25%, dan edema papil 25%. 3,5

Biasanya terdapat riwayat infeksi sebelumnya. Otitis media, mastoiditis, sinusitis, bronchiestasis atau pneumonia sering terdapat. Manifestasi fokal dapat terjadi, yang menimbulkan defek lapangan penglihatan, perubahan motorik dan sensorik lainnya, afasia dan kelumpuhan nervus cranialis yang serupa dengan kelumpuhan yang disebabkan oleh massa intrakranial lainnya.2

Pada stadium awal dari infeksi, abses dapat bermanifestasi sebagai bentuk nonspesifik dari encephalitis disertai dengan peninggian tekanan intrakranial. Dengan tanda-tanda seperti papil edema, nyeri kepala dan respirasi serta nadi yang lambat. Papilledema biasanya ada pada anak besar, dan penonjolan fontanel bisa ada pada bayi muda. Tanda-tanda meningeal yang ringan bisa terdapat seperti rigiditas yang ringan pada leher dan tanda Kernig yang positif. Somnolen dan perlambatan proses-proses mental umumnya dijumpai. Suhu tubuh sedikit meninggi dan jarang melampaui 39o C kalau komplikasi seperti meningitis tidak terjadi. 2,5

Tanda defisit neurologi fokal ditemukan pada kebanyakan pasien. Tanda dan atau gejala berdasarkan lokasi intrakranial dari abses.3,5

- Abses cerebellar: sakit kepala postauricular, ataxia ipsilateral, muntah, dismetri, dan parese penglihatan sesisi lesi disertai nistagmus.

- Abses batang otak: kelemahan pada wajah, sakit kepala, demam, muntah, disfagi, hemiparese.

- Abses frontal: sakit kepala frontal, mengantuk, kurang perhatian, penurunan status mental, gangguan berbicara, dan hemiparese dengan tanda motorik unilateral.

- Abses lobus temporal: sakit kepala frontotemporal, afasia ipsilateral, dan penurunan penglihatan.

DIAGNOSA

Electroencephalography, brain scanning, computerized tomography (CT) dan encephalography dapat membantu diagnosa dan menentukan lokasi abses otak. Ventrikulography udara, pneumoencephalography atau angiography cerebral juga diperlukan untuk menentukan letak abses. Abses otak dapat ditentukan lokasinya pada saat operasi dengan menggunakan aspirasi jarum.2

Pemeriksaan terbaik untuk menemukan abses otak adalah CT scan atau MRI. Sejak kehadiran CT scan dan MRI, Jumlah kematian menurun sampai 90%. Biopsi dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan tumor atau stroke dan untuk menentukan organisme penyebab terjadinya abses.5,7

1. Pemeriksaan Laboratorium

a. Tes rutin:

- Serum C-reactive protein (CRP) atau sedimentasi Westergren

- Tes serologik, diperoleh dari beberapa patogen (serum immunoglobulin cairan cerebrospinal Polymerase chain reaction untuk Toxoplasma)

- Kultur darah (paling sedikit 2 kali, lebih baik sebelum penggunaan antibiotik)

- Leukositosis sedang, dan sedimentasi eritrosit serta CRP umumnya meningkat. Kadar serum sodium mungkin berkurang sebagai hasil produksi hormon antidiuretik yang tidak normal. Jumlah platelet mungkin tinggi atau rendah.5

b. Cairan cerebrospinal:

Pungsi lumbal jarang dilakukan dan merupakan kontraindikasi jika tekanan intrakranial meningkat. Biasanya hasilnya tidak begitu berguna, memperlihatkan peningkatan pleositosis protein dengan jumlah variabel netrofil, kadar glukosa normal, dan pungsi lumbal untuk menyingkirkan proses penyakit lain, khususnya meningitis. Jumlah leukosit umumnya meningkat mencapai 100.000/ml. 5

c. Aspirasi abses:

Aspirasi kultur abses untuk organisme aerob, anaerob dan tahan asam. Selanjutnya sebaiknya dilakukan pewarnaan gram, pewarnaan tahan asam (untuk Mycobacterium), pewarnaan spora (methenamine silver mucicarmine) 5

2. Foto:

CT scan dilakukan setelah tes lain, seperti angiografi, ventriculografi, pneumoencefalografi, dan scan radionuclide otak, yang hampir tidak memberi manfaat.

CT scan dengan pemberian zat kontras, dapat mendeteksi jumlah dan lokasi abses, dan itu dapat menjadi landasan utama dalam diagnosis dan penatalaksanaan selanjutnya. Metode ini digunakan untuk mengonfirmasi diagnosa, untuk mengetahui lokasi lesi dan prognosis setelah penanganan. Setelah injeksi zat kontras, CT scan memperlihatkan gambaran khas otak sebagai hipodens pusat dengan peningkatan jaringan sekitar yang sama. 5



MRI dipertimbangkan sebagai metode diagnostik pertama untuk diagnosis abses otak. MRI dapat memberikan diagnosis yang akurat dan tindak lanjut yang baik dari lesi dengan sensitifitas dan spesifitas yang paling baik. Dibandingkan CT scan, MRI memberikan kemampuan lebih baik, kontras terhebat antara edema cerebral dan otak, dan deteksi dini terhadap lesi dan penyebaran inflamasi ke ventrikel dan ruang subarachnoid. 5

3. Tes lain:

EEG kadang-kadang menyatakan fokus tegangan tinggi dengan aktifitas lambat. EEG sama sekali jarang bernilai dalam penegasan diagnosis, dan merupakan prosedur yang kurang akurat pada evaluasi abses. 5

DIAGNOSIS BANDING

1. Meningitis

2. Ensefalitis

3. Tumor Serebri

Abses otak biasanya sulit dibedakan dengan kelainan otak yang lain (yaitu tumor otak, leptomeningitis atau encephalitis). Pada tumor otak, biasanya tidak terdapat riwayat atau adanya infeksi yang mendahului dan hitung sel dalam liquor cerebrospinalis biasanya normal. Leptomeningitis biasanya dapat dibedakan lewat biakan liquor cerebrospinalis yang positif. Leptomeningitis fulminan yang akut mudah dibedakan secara klinik dengan abses otak, sedangkan leptomeningitis yang ringan (misalnya leptomeningitis tuberculosa dan syphilitica) secara klinik sulit dibedakan. Biasanya encephalitis tidak memperlihatkan tanda-tanda fokal abses otak dan biasanya menyebabkan perubahan yang berat dan lebih mendalam pada sensorium dan personalitas.2,8

Gambaran klinik pada abses otak juga biasanya ditunjukkan oleh gejala dari space-occupying lesion. Tanda dan gejala termasuk diikuti demam tinggi ataupun ringan, sakit kepala persisten (biasanya terlokalisir), rasa mengantuk, bingung, stupor, kejang umum dan lokal, mual dan muntah, kerusakan fokal motorik dan sensorik, papil edema, ataxia, hemiparese.5

PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaannya terdiri atas tindakan operatif mengeringkan pus. Pembedahan dapat ditunda sampai abses tersebut diliputi oleh kapsul yang padat. Apabila abses sudah diliputi dengan baik oleh kapsul dan mudah dibedah, kadang-kadang dapat dilaksanakan eksisi in toto. Umumnya dikerjakan marsupialisasi cavitas, pengisian cavitas dan berbagai tipe insisi serta drainage. Setelah tindakan surgical drainage dilakukan, irigasi rongga abses dengan solution antibiotik sangat bermanfaat. Pengobatan fokus asal infeksi (misalnya mastoiditis kronis) kadangkala diperlukan sebelum abses otak sembuh sama sekali. Terapi antibiotik harus berdasarkan hasil-hasil biakan dan tes sensitivitas.2

1. Antibiotik

Pengobatan untuk abses otak adalah antibiotik, yang paling sering digunakan adalah pemberian oxacillin 2 gr IV tiap 4 jam atau penicillin G 4 juta unit IV tiap 4 jam, metronidazole 500 mg IV tiap 6 jam, dan ceftriaxone 2-4 gr tiap 12 jam. Jika tidak ada respon, dipertimbangkan pemberian amfoterisin B untuk menangani kemungkinan infeksi jamur. Penanganan lengkap 4-8 minggu, durasinya harus berdasarkan CT scan atau gambaran MRI, yang pemeriksaannya diulang setiap 2 minggu. Jika antibiotik tidak berhasil mengatasi keadaan ini, maka dilakukan pembedahan untuk membuang nanah. Kadang abses menyebabkan bertambahnya tekanan dan pembengkakan di dalam otak, yang ditandai dengan penurunan kesadaran yang sangat rendah. Keadaan ini sangat serius dan bisa menyebabkan kerusakan otak yang menetap, sehingga diberikan kortikosteroid dexamethasone 4-10 mg IV tiap 6 jam selama 4-6 hari dan obat lainnya (misalnya manitol) untuk mengurangi pembengkakan otak dan mengurangi tekanan di dalam otak.6,8

Walaupun pemilihan antibiotik idealnya disesuaikan dengan hasil kultur spesifik dari spesimen yang berbeda, antibiotik preoperatif sebaiknya diberikan terlebih dahulu untuk drainage. Dosis antibiotik preoperatif sebaiknya tidak mensterilkan kebanyakan abses asalkan material purulen terkirim tepat pada laboratorium mikrobiologi. Bakteri anaerob memainkan peranan penting pada abses otak, dimana pemeliharaan spesimen pada saat surgical drainage sangat penting. Ketepatan proses dan pemeliharaan spesimen tergantung pada prosedur penggunaan tiap perlengkapan rumah sakit (seperti media transport), tetapi teknik aseptik yang optimal pada selama prosedur anaerobik sepenuhnya esensial untuk interpretasi kultur pada pembedahan pada kasus abses otak.6

Pada infeksi SSP, pemilihan antibiotik ideal tergantung pada kemampuan untuk mencapai tempat infeksi yang diharapkan (seperti memasuki parenkim otak), menghambat pertumbuhan kebanyakan organisme patogen pada umumnya, dan lebih baik dalam menyingkirkan bakteri penyebab (efek bakterisidal baik). Sebelum pelaporan hasil kultur, perbandingan antibiotik harus diberikan, didasarkan atas riwayat pasien dan kesesuaian tanda dan gejala.6

Antibiotik spesifik5

- Penicillin menembus baik ke ronggga abses dan aktif melawan produksi non β-lactamase dari organisme anaerob dan aerob

- Chloramfenicol menembus baik ke dalam ruang intrakranial dan juga aktif melawan Haemophilus spp, S pneumoniae, dan kebanyakan obligat anaerob. Penggunaannya dibatasi karena kemampuan dari kombinasi antimikroba yang lain lebih manjur dan kurang toksik (cefotaxime dan metronidazole)

- Metronidazole menembus baik ke dalam SSP dan tidak dipengaruhi oleh terapi kortikosteroid, aktif sebagai anti bakteri anaerob, dan mungkin suboptimal terhadap kuman kokkus gram positif anaerob.

- Cephalosporin generasi ketiga (cefotaxime, ceftriaxone) umumnya adekuat sebagai terapi terhadap organisme gram negatif. Seperti Pseudomonas, diantisipasi dengan cephalosporin parenteral ceftazidime atau cefepime.

- Aminoglikosida tidak menembus baik ke dalam SSP dan relatif kurang aktif karena kondisi anaerob dan kandungan asam dari abses.

- β-lactamase resisten penicillin (seperti oxacillin, methicillin, nafcillin) mengandung cara kerja bagus melawan methicillin-sensitif Staphylococcus aureus. Bagaimanapun, penetrasinya ke SSP kurang dibanding penicillin, dan penambahan rifampin bermanfaat pada meningitis staphylococcus.

- Vankomisin paling efektif melawan methicillin-resisten Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis seperti halnya Streptococcus aerob dan anaerob serta Clostridium spp.

- Dengan pengecualian Bacteriodes fragilis dan beberapa strain Prevotella, Porphyromonas, dan Fusobacterium, kebanyakan dari patogen anaerob terisolasi sensitif terhadap penicillin. Karena penicillin-resisten organisme anaerob mendominasi dalam abses otak, terapi empiris seharusnya mengandung bahan yang efektif dan juga dapat menembus sawar darah-otak, meliputi metronidazole, chloramphenicol, ticarcillin dan asam clavulanic, imipenem, atau meropenem.

- Penggunaan carbapenems dan β-lactamase secara umum harus hati-hati karena dosis tinggi dapat menyebabkan aktivitas kejang. Resiko kejang pada pasien dengan abses otak meninggi pada penggunaan imipenem. Walaupun fluroquinolones mempunyai daya tembus yang baik ke dalam SSP, penggunannya dibatasi dalam penanganan abses otak.

- Terapi dengan penicillin harus ditambahkan metronidazole untuk menutupi Streptococcus aerob dan mikroaerofili.

- β-laktamase - resisten penicillin atau vankomisin untuk penanganan Staphylococcus aureus umumnya digunakan.

- Amfotericin B digunakan untuk infeksi Candida, Sryptococcus dan mucorales, voriconazole untuk infeksi Aspergillus dan P boydii.

- Infeksi Toxoplasma gondii diatasi dengan pyrimethamine dan sulfadiazine.

2. Pembedahan

Pasien dengan abses otak mungkin dapat baik tanpa pembedahan, tetapi kebanyakan pasien membutuhkan pembedahan disamping pemberian antibiotik yang tepat untuk penanganan definitif. Hal tersebut sangat perlu, karena bagaimanapun menyangkut penilaian keseluruhan pasien abses otak pada perencanaan penanganan awal, tidak hanya untuk penegakan diganosis, tetapi juga selama penanganan medis, kondisi pasien mungkin memburuk dengan cepat dan membutuhkan penanganan bedah segera.6

Pembedahan dengan drainase merupakan terapi yang paling optimal, dengan teknik aspirasi yang merupakan prosedur paling umum dan sering dilakukan dengan bantuan CT scan atau MRI. Drainage ventrikular dikombinasikan dengan antimikroba dan atau intrathecal digunakan untuk mengatasi abses otak yang ruptur sampai ke ventrikel.5

Walaupun pemilihan antimikroba yang sesuai paling penting dalam menangani infeksi intrakranial, pembedahan drainage mungkin diperlukan. Pasien tanpa indikasi pengobatan diperlukan pembedahan, yang mungkin dilakukan dengan asprasi stereotaktik dan eksisi. Pada kasus abses multipel atau abses pada area penting otak, aspirasi berulang diperlukan untuk melengkapi eksisi. Antibiotik dosis tinggi untuk satu periode mungkin menjadi alternatif. Resiko aspirasi berulang dapat menyebabkan perdarahan. Terapi optimal dari abses oleh jamur umumnya memerlukan pendekatan medis dan bedah.5

Penundaan pembedahan drainage dapat meningkatkan angka kematian. Studi terbaru menggambarkan abses otak pada fase awal dari cerebritis mungkin berespon terhadap terapi antimikroba tanpa pembedahan. Pembedahan drainage mungkin diperlukan pada banyak pasien untuk menjamin terapi adekuat dan lengkap dari infeksi. 5

Pembedahan darurat harus dilakukan jika terdapat abses tunggal. Abses dengan ukuran lebih dari 2,5 cm dieksisi atau aspirasi, sedang yang lebih kecil dari 2,5 cm diaspirasi dengan tujuan diagnosis. 5

PROGNOSIS

Terapi dengan obat-obatan sangat memperbaiki prognosis abses otak. Bahkan pernah dinyatakan bahwa pembentukan abses otak dapat digagalkan dengan penggunaan antibiotik yang tepat pada awal perjalanan infeksi (yaitu cerebritis). Tanpa pengobatan biasanya abses otak akan membawa akibat yang buruk.2

KESIMPULAN

Abses otak merupakan penimbunan nanah yang terlokalisir dalam otak yang dapat disebabkan oleh infeksi daerah sekitar, akibat pembedahan atau trauma kepala, infeksi hematogen, dan kriptogenik (tidak diketahui). Gejalanya bisa berupa sakit kepala, mual, muntah, mengantuk, afasia, gangguan motorik tergantung lokasinya.

Pemeriksaan terbaik untuk diagnosa abses otak adalah CT scan dan atau MRI. Pengobatannya dapat melalui pemberian antibiotik, biasanya efektif pada awal infeksi, dan dengan pembedahan untuk membuang pus, apabila pemberian antibiotik tidak berhasil.

Abses otak dapat menyebabkan kerusakan yang serius, oleh karena itu perlu penanganan yang cepat dan tepat.



2 comments: